Inspiring Notes

127 views

MEMAKNAI SEBUAH PERISTIWA

By Imam Robandi posted 2018-01-05 10:44:15
semangat berkemajuan dengan terus berkarya

Oleh http://www.irosociety.com

_ Sudah ada 14 udangan di tahun 2018 yang insyaAllah saya tidak dapat memenuhi, karena memang sudah saya niati akan mengurangi aktivitas saya bersama sekolah-sekolah. Mungkin masih ada satu dua yang harus saya penuhi karena sudah berjanji di tahun-tahun sebelum ini saya akan datang. Saya sudah dapat memprediksi, karena rata-rata sekolah (terutama Sekolah Muhammadiyah dan Sekolah-sekolah Islam) sudah banyak tumbuh dengan bagus, dan waktu 20 tahun untuk saya adalah sudah merasa sangat cukup untuk ikut sedikit (sangat sedikit) membantu dalam membesarkan sekolah-sekolah milik masyarakat. Banyak kenangan dan suka duka, dan saya ingat di tahun 1990 saya harus ke Pulau Bawean dan Pulau Masalembo, dan di tahun berikutnya saya harus ke Pulau Raas dan Sapudi. Juga di tahun-tahun itu saya harus menengok kampung-kampung di Kecamatan Pesanggaran di Kab. Banyuwangi, dan malamnya mengisi pengajian di Desa Sarongan, dan setelah itu mengintip Penyu bertelor di Desa Sukamade, dan Rajegwesi.

Begitu juga saat saya pertama kali bertemu dengan Bu Welas Banyumas yang masih sangat junior saat itu, bertemu dengan Tulang Said yang masih muda belia, ustadz Mulyana yang berat badannya saat itu masih 65 Kg, dan Mas Isa Iskandar yang baru lulus dari ITS langsung menjadi kepala sekolah. SDM 26 Surabaya dengan kepala sekolahnya bernama Erlin Widiana yang masih berumur 26 tahun, dan saya sempat menguji ustadz M Zaini SPEAM di Pucang yang saat itu saya bertanya dengan bahasa Inggris dan dia hanya dapat menjawab “yes Sir”. Saya sangat hafal wajah-wajah mereka saat mereka masih muda, dan saya ingat sekali saat itu Kang Turrachman belum dapat menyetir mobil. Saya juga masih ingat saat Kanjeng Romo Adiwaluyo Principal SMA Muhi Jogja menyetiri saya ke Wonosobo, melewati Sepuran dan Kretek, dan roda mobil saat itu selalu meleset saat menabrak glondongan potongan pohon Sengon Laut. Menemani kepala sekolah dan pimpinan penyelenggara sekolah ke luar negeri, dan pendek kata banyak sekali nostalgia. Semoga telah menjadi untaian makna yang mendalam untuk kehidupan saya bersama masyarakat. Saat diundang teman-teman NU di Pesantren Darul U’lum, saat diundang teman-teman NU di Probolinggo, saat diundang teman-teman PKS untuk membranding sekolahnya, juga teman-teman Al Irsyad Tegal, Al Falah dan juga Al Hikmah Surabaya, dan juga sekolah-sekolah Nonmoslem, apalagi sekolah-sekolah Muhammadiyah, dan semua telah saya catat sebagai lebih dari sekadar terindex di journal Scopus.

Semua akan saya kurangi porsinya di 2018, dan termasuk jumlah group WA yang saya ikuti atau saya bangun dan akan saya sederhanakan jumlahnya. Logicability mengatakan bahwa secara ideal group IRo hanya ada satu saja, dan cukup dengan 256 members. Begitu pula, prediksi saya, saya juga akan bergabung di maksimal 5 group, dan resikonya saya juga harus mengundurkan diri dari banyak group yang semua sangat saya cintai. Saya pengajar matematika, sehingga saya harus memahami benar khasiat metode kurva hyperbolic, yang akan hanya ada satu titik ekstrim, dan titik-titik yang lain adalah titik-titik normal, atau titik-titik penggembira.

Kenangan selalu bermakna. Hari Selasa, Dec. 19, saya mengisi acara besar di PB PGRI Jakarta, Selasa malam saya sampai rumah di Surabaya. Rabu pagi saya mengajar di Kampus ITS, pukul 22.00 saya masih koordinasi acara Baturaden, dan pukul 24.10 saya masuk UGD Rumah Sakit Haji Surabaya, kembali lagi ke rumah pukul 4.30 pagi hari Kamis, dan saya harus membatalkan acara Kamis itu di PB PGRI di Hotel Mercure Kemayoran, Jakarta. Pukul 08.00, pagi saya ke Medical Center ITS, dan pukul 9.00 saya harus kembali lagi ke Rumah Sakit Haji, badan sudah seperti melayang. Saya tidak berani memberi tahu siapun kecuali beberapa orang, dan ini untuk menjaga agar Panitia Baturaden, Purwokerto, dan Kemranjen tidak panik. Sampai hari ini anak-anak tidak tahu kalau bapaknya baru saja sakit. Semua menyarankan untuk membatalkan berangkat ke Banyumas Raya, dan Jum’at pagi dengan membaca niat berdakwah “bismillahirrohmanirrohiim”, badan yang masih melayang-layang saya ajak untuk naik kereta api menuju Kroya City. Cairan injeksi dari UGD yang dimasukkan melalui infus ke raga saya masih terasa di dalam kereta. Saat turun di Kereta Api di Kroya, raga masih seperti di bangsal penginapan rumah sakit haji, dan saya harus tetap menebar senyum agar mereka tidak tahu kalau saya sedang sakit. Melihat makanan di Pondok Pesantren Kemranjen, yang semua kesukaan saya yang sangat lezat-lezat, ada pete, mendoan, teh anget, buntil, klubanan, semua tertolak oleh lidah saya, dan sekarang setelah sehat, saya ingin ke Kemranjen lagi. Mungkin banyak yang tidak tahu juga, saat berduren ria saat itu, dan juga pengambilan banyak gambar, raga saya seperti sedang dibombardir rasa sakit, dan tetap saya harus melayani semua yang ingin membuat rekaman video di Kebun Duren Kalilanag. Rasa badan saya saat itu adalah hanya satu, ingin cepat-cepat ke penginapan dan tidur, semoga esok harinya sehat dan pulih.

Waktu Baturaden tiba di Queen, ternyata situasi badan belum berubah, tetapi melihat peserta dari Bumi Papua sangat bersemangat dan melihat ustadz Aris Pujianto sangat sibuk, maka naluri Bushido saya bangkit, dan hanya bertahan sampai sebelum maghrib, dan lumayan malam harinya saya sempat makan Jagung Bakar 4 buah untuk kompensasi. Saya langsung tidur setelah makan jagung bakar itu, dan berjumpai dengan pagi, dan di pagi itu saya terhibur oleh para peserta yang sedang asyik mandi di Water Falls. Selesailah acara Baturaden setelah dhuhur, plong badan saya, walaupun raga masih gonjang-ganjing. Pindah penginapan, dan rasa tidak enak masih berlanjut sampai sore, dan tidak ada pilihan, saya harus ke rumah sakit lagi. Ibu-ibu Aisyiah, mendampingi saya menuju rumah sakit di Purwokerto. Ini adalah pertama kali saya ke rumah sakit dikawal oleh para ibu-ibu. Rumah Sakit PMI, penuh. Rumah Sakit IDI, penuh. Pikir saya, masa saya harus ke UGD lagi. Pendek kata urusan rumah sakit selesai, dan esok harinya harus menghadapi seribu guru PAUD di Auditorium UMP. Wow.., badan seperti melanglang kemana-mana, dan begitu sore harinya mengisi di Kedai Wontu, saya menyerah dan hanya duduk, yang di dalam pikiran saya hanya satu, cepat-cepat sampai di Surabaya untuk melihat hasil check-up dan photo x ray.

Di dalam kereta saya hanya berpikir, saya masih lumayan, sakit dengan berduduk di Kereta Api, ada ACnya lagi. General Sudirman, di masa perjuangan melawan Belanda, dia sedang sakit digotong dari hutan satu pindah ke hutan yang lain.


Surabaya, Jan. 1, 2018

RELATED

MEMAKNAI SEBUAH PERISTIWA

By Imam Robandi posted January 05, 2018

semangat berkemajuan dengan terus berkarya

ANGKA ANGKA

By MUSAWERNA posted November 14, 2018

Angka - angka itu bisa berubah -ubah Dari angka 1,2,3 hingga 10 Hidup kita juga demikian, Selalu be...

Menyiram dan Menumbuhkan

By MUSAWERNA posted April 18, 2017

Tanaman yang berkwalitas tentu akan menghasilkan buah yang berkwalitas pula, itu sudah menjadi rumus...

Bendera Tanpa Tiang

By Turrachman posted November 08, 2018

Apa itu bendera tanpa tiang ? kok aneh -aneh. Setiap bendera kalau mau berkibar ya harus ada tiangny...